Kenapa Harus Pacaran (lagi) Sih?

Tidak mudah mengkampanyekan anti pacaran. Sama tidak mudahnya bagi para pecandu aktivitas ini untuk berhenti. Serbuan-serbuan budaya luar dan tawaran romantisme yang memanjakan syahwat tak jarang memantik perilaku berlebihan dalam hubungan ini, yang katanya sih, didasari atas nama CINTA !!!

Seperti layaknya candu, efek negatifnya mulai terasa ketika kita menyadari bahwa ada yang ‘hilang’ dari diri kita. Begitu juga pacaran yang akan terasa ketika kenyataan tidak sesuai dengan harapan. Disisi lain, masih banyak yang mengambil pembelaan dengan dalih ‘pacaran sehat’ ‘pacaran Islami’ dan pembelaan-pembelaan lain. Mereka masih kukuh membuat seolah-olah pacaran, hubungan lawan jenis lain yang marak (HTS-an, TTM) menjadi sesuatu yang wajar dan biasa. Dan menganggap bahwa penentang pacaran adalah ekstrim, kurang gaul, sok munaklah, dll.

Ada lagi yg sebenarnya sangat membenarkan bahwa pacaran begitu tidak bermanfaat, tapi ragu untuk mengakhirinya karena ‘kadung cinta’ takut dianggap kurang pergaulan, tidak mengikuti tren, dan desakan-desakan lingkunga yang lain. Sangat kompleks bukan?

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: