sebuah percakapan dengan seorang yang sholeh…

Akhi, sebenarnya kamu pernah jatuh cinta tidak sama seorang perempuan?

(Lalu dengan senyuman meneduhkan dia menjawab)

Cinta itu fitrah Akhi. Cinta anugerah dalam hidup ini. Tapi jika tidak ditempatkan pada tempat yang seharusnya, maka cinta itu akan berubah menjadi musibah.

(Mendengar pernyataannya, logikaku semakin ingin mencari tahu)

trus, kalau akhi menyukai sesorang, apa yang akan akhi lakukan?

Maka, aku akan melamarnya dan menikahinya.

Kalo misalnya akhi belum siap untuk menikah, apakah akhi akan berpacaran dengannya?

Tidak akhi, aku tidak akan melakukan itu. Aku akan mencintainya dalam diam, biarkan cinta itu hidup dan mati dengan sendirinya. Ketahuilah akhi, cinta yang sejati hanya kepada ALLAH saja. Cinta yang tidak akan tersia-siakan, akhi tidak akan pernah ditelantarkan dan dikecewakan.

Tapi kan pacaran itu sudah menjadi hal yang umum akhi, tidak ada salahnya juga kalau niat kita masih baik kan?

(tanyaku dengan melihat kenyataan sekarang)

Akhi, sesuatu yang umum dilakukan orang-orang bukan suatu jaminan akan kebenarannya. Dan kalau perkara niat yang akhi katakan tadi bahwa selama niatnya masih baik, Rasullulah telah jelas-jelas meminta kita umatnya untuk menjauhi perkara syuhbat, perkara itu maksudnya suatu hal yang tidak jelas dasar hukumnya, apakah dia halal atau haram. Sekarang akhi tahu kan alasannya.

(spontan akalku membaur)

inilah dasar hukumnya, sekarang aku tidak akan bertanya lagi tentang boleh atau tidaknya pacaran.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: